Bukankah semua juga tau kalau kesehatan itu penting banget buat kita. Maka, meskipun kita nggak sakit, kita harus periksa kesehatan secara teratur. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati? Simak deh info berikut ini!

Kalau kamu pengen cek: kondisi tubuh kamu secara umum. Apa kamu kena anemia, leukimia, atau sekadar monitoring keadaan darah secara umum
Then Choose: Tes darah lengkap (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit)
How Much? Rp 30.000-Rp 35.000,-

Kalau kamu pengen cek: adanya potensi penyakit Diabetes Melitus dalam tubuh kamu
Then Choose: Tes Glukosa
How Much? Rp 12.000,-

Kalau kamu pengen cek: kadar gula darah dalam tiga bulan sebelumnya
Then Choose: Tes HBA1C
How Much? Rp 95.000,-

Kalau kamu pengen cek: kadar lemak dalam darah
Then Choose: Tes Cholesterol & Trigliserid
How Much? Rp38.000,-

Kalau kamu pengen cek: kadar kolesterol baik dan jahat dalam tubuh
Then Choose: Tes HDL-Cholesterol & LDL-Cholesterol
How Much? Rp 64.000,-

Kalau kamu pengen cek: fungsi ginjal dan kesehatan saluran kencing
Then Choose: Tes Ureum & Creatinin
How Much? Rp 34.000,-

Kalau kamu pengen cek: Fungsi liver yang menyaring racun dan kotoran di darah
Then Choose: Tes SGOT & SGPT
How Much? Rp 34.000,-

Kalau kamu pengen cek: kondisi saluran kencing, ginjal plus gangguan metabolisme tubuh.
Then Choose: Tes urine rutin
How Much? Rp 13.000,-

Kalau kamu pengen cek: adanya penyakit rematik yang menurun.
Then Choose: Tes ASTO, RF
How Much? Rp 96.000,-

Hopefully Useful...^^
*sumber: Olga’ Magazine issue 45

Tubuh kita memiliki jam sendiri. Seperti weker, tubuhmu terbangun pada jam kamu terbiasa bangun.
Pernah mendengar istilah jam biologis? Jam biologis adalah kemampuan tubuh kita untuk mengenali waktu harian karena telah terbiasa dengan rutinitas tersebut. Misalnya, jika kamu terbiasa terbangun pukul lima pagi untuk bersiap berangkat sekolah atau bekerja maka meskipun wekermu mati, kamu akan terbangun sekitar pukul lima pagi.
Jam biologis memang tidak seakurat jam dinding atau arloji di tanganmu, terkadang ia agak lebih cepat atau lebih lambat. Namun, jam biologis pun dapat dikelabui.
Mari kita lakukan percobaan berikut:

Yang dibutuhkan:
•Buku notes atau komputer untuk membuat jurnal
•Arloji tau jam weker
•Dirimu sendiri

Mari mulai!
1.Ingatlah semua kegiatan yang kamu lakukan sejak bangun tidur di pagi hari hingga kamu tidur kembali di malam hari.
2.Buatlah sebuah jurnal kegiatan harian itu selama satu minggu.
3.Pada malam hari waktu hendak tidur, setel arloji atau wekermu satu jam lebih lambat dari waktu sebenarnya. Namun, stel alarm sesuai dengan kebiasaanmu, misalnya pukul 05.00
4.Amati setiap kamu tidak lagi merasakan perasaan aneh itu.
Anda besar dengan berpikir besar.
Anda kecil bila berpikir kecil.
Keterbatasan Anda adalah pikiran Anda.
Mimpi dianugerahkan agar Anda bisa berpikir besar.
Maka bermimpilah menjadi besar.
Mulailah dari pikiran Anda.
Keberhasilan semata-mata bagaimana Anda meletakkan dalam pikiran.

 

Tidak ada yang salah pada lingkungan sekitar.
Tidak pula salah pada waktu Anda.
Semua memberikan tempat dan kesempatan bagi Anda untuk meraih keberhasilan.
Tinggal Anda mengambil langkah pertama, yaitu berpikir besar.
Tak ada salah pada katak yang merindukan bulan.
Tak ada salah pada kera yang ingin menjadi dewa.
Jangan hiraukan ucapan orang lain.
Bergaullah dengan orang-orang yang berkepribadian besar.
Perlakukan diri Anda dengan penuh rasa hormat,maka orang lain akan menghormati Anda sebagai orang besar.


HTS
Ketika Anda memandang suatu persoalan, tanggalkan prasangka-prsangka. Prasangka itu bagaikan sepatu yang nyaman dipakai namun tak dapat digunakan untuk berjalan. Ia memberikan jawaban sebelum Anda mengetahui pertanyaannya. Dan seburuk-buruknya jawaban adalah bila Anda tak paham akan masalahnya. Biarkan fakta yang tampak di hadapan Anda terima apa adanya.
Jangan biarkan prasangka menyeret Anda, namun sebenarnya ia berbahaya di waktu yang panjang. Bila Anda telah mampu melepaskan prasangka, berarti Anda telah menemukan pandangan yang lebih jernih dan keberanian untuk mengatasi masalah yang lebih besar. Bila Anda mengenakan kacamata. Maka yang melihat tetaplah mata Anda, bukan kacamata Anda. Keadaan yang sebenarnya terjadi adalah apa yang berada dibalik kacamata, bukan yang terpantul pada cermin kacamata Anda. Demikian pula halnya dengan diri Anda. Yang sesungguhnya melihat adalah hati Anda melalui mata. Prasangka itu adalah debu-debu pikiran yang mengaburkan pandangan hati sehingga Anda tak mampu melihat dengan baik. Usaplah prasangka sebagaimana Anda menyingkirkan debu dari kacamata karena keinginan Anda untuk melihat lebih jelas dan lebih jernih lagi.


HTS