Mungkin ada sesuatu yang selalu Anda ingin kerjakan. Sebuah hasrat untuk mengerjakan sesuatu yanng Anda cita-citakan. Mengapa Anda tidak coba mengerjakannya hari ini? Hari ini adalah saat paling sempurna untuk memulainya. Dari semua hari yang tersedia, tidak ada yang lebih tepat daripada hari ini. Anda menginginkan kesempurnaan? Berangkatlah dari yang tidak sempurna terlebih dahulu. Perbaiki satu bagian demi satu bagian, maka apa yang Anda inginkan akan terwujud di depan. Tidak ada karya yang muncul dengan sekali duduk. Mengambil langkah pertama tidaklah sulit. Semuanya ada di dalam jangkauan Anda. Termasuk hari ini. Jadi tunggu apalagi, yang terpenting adalah Anda memulainya sekarang, karena Anda adalah pemilik hari ini. Mengapa tidak besok? Karena hari esok belum tentu ada. 


HTS
ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaaan marah si anak, ayahnya mmberikan sekantung paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali dia marah. Hari itu anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap, jumlah itu berkurang. Dia mulai menyadari bahwa ternyata lebih mudah manahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar. Akhirnya tibalah saat di mana anak tersebut merasa mampu mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Dia memberitahu hal itu pada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku setiap hari yang tidak dilaluinya tanpa amarah. Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang dipagar ini. pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain.” “kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabutnya. Tetapi tidak perduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah lebih sulit sembuh daripada luka fisik.” Anak itu hanya tertunduk dan makin menyadari bahwa kemarahan tak terkendali adalah perbuatan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.


HTS
Seorang pria berhenti di depan toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya lalu dijawab oleh si gadis kecil. “saya ingin membeli setangkai bunga mawar untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.” Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut! Aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis itu setangkai mawar merah, sekalian memesankan karangan bunga untuk dikirim ke ibunya. Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira dan berkata, “Ya tentu saja. Maukah Anda mengantarkan ke tempat ibu saya?” kemudian mereka berdua menuju ke tempat ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. Lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada kuburan yang masih basah. Melihat hal itu, hati pria itu jadi terharu dan teringat sesuatu. Ia bergegas kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan pesanan antarnya. Ia mengambil karangan bunga itu dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.


HTS
Cobalah untuk mengawali hari Anda dengan niat untuk memberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di depan mata Anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa receh yang mungkin tercecer di kamar Anda, hanya untuk satu tujuan: diberikan. Apakah Anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen yang bernyanyi dengan suara yang tidak Anda sukai, atau saat Anda sedang berada di mobil yang ber-AC sejuk, lalu ada sepasang tangan mengetuk meminta-minta. Tak peduli bagaimana pendapat Anda tentang kemalasan, kemiskinan, dan lain sebagainya. Tak perlu banyak berpikir, segera beri satu atau dua keping kepada mereka. Barangkali ada resa enggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian Anda. Bukankah, tak seorang pun ingin menjadi pengemis? Ingat, kali ini Anda sedang “melatih diri” melalui telapak tangan Anda dengna sesuatu bernama kasih sayang. Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dalam diri sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya yang terpenting bukanlah receh atau berlian yang Anda berikan, tapi kemurahan hati Anda kepada sesama itu.


HTS
Bagaimana seseorang mampu bertahan berjam-jam bekerja seolah tak mengenal lelah? Apa pula rahasia seorang pekerja lepas pantai yang meninggalkan anak istri bertarung melawan angin dan badai? Bagaimana juga dengan para petani, nelayan, kuli, sopir angkutan, atau pekerja berat yang tahan membanting tulang di tengah terik panas atau dingin malam? Sedangkan di sudut sempit yang lain, banyak orang mengeluh karena persoalan yang tak lebih besar dari ujung kuku. Kekuatan itu bernama cinta. Cinta yang melahirkan harapan dan pengabdian itu semua bagi keluarga nun jauh di sana; kepada masyarakat banyak yang membutuhkan karya mereka; kepada alam yang mengasuhnya; kepada masa depan kehidupan yang sejahtera; atau kepada hati tempat cinta itu mengalir. Bila Anda berkeluh kesah hanya karena urusan yang perlu lebih keras, maka kenanglah punggung bungkuk seorang kakek penarik sampah di kota-kota. Mereka memiliki sesuatu yang dicintai, yang kepadanyalah seluruh kerja keras ini didedikasikan. Kepada para pekerja keras inilah, kita belajar tentang pengabdian atas nama cinta.


HTS
Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah anak muda yang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang masam. Tamu itu tampak seperti orang yang tidak bahagia. Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Orang tua yang bijak itu mendengarkan dengan saksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya. ” Ujar orang tua itu. “Pahit. Pahit sekali.” Jawab anak muda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu hanya tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya ini berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Orang tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke telaga itu. Dengan sepotong kayu diaduknya permukaan air hingga tercipta gelombang riak air, yang mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah!” saat pemuda itu selesai meneguk air itu, orang tua itu kembali bertanya. “Bagaimana rasanya?”. “Segar.” Sahut pemuda itu. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya orang tua itu lagi. “Tidak.” Jawab si anak muda. Dengan bijak, orang tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarkanlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama.” Tapi pahit yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan, tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan pahit dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” Orang tua itu melanjutkan nasihatnya, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kau menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yangn mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar pada hari itu. Dan orang tua bijak itu kembali menyimpan “Segenggam garam”, untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.


HTS